25 Tahun Tak Pernah Diganti, Air Jernih Belum Tentu Bersih
Beberapa waktu lalu, dunia maya sempat digemparkan oleh kabar yang cukup mencengangkan dari Manado. Kolam renang KONI Sario, yang merupakan salah satu fasilitas olahraga yang cukup dikenal di sana, dikabarkan belum pernah diganti airnya sejak tahun 1999.
Ya, dua puluh lima tahun lamanya air di kolam tersebut hanya disaring dan diklorinasi tanpa pernah benar-benar dikuras habis.
Sekilas, kolam itu masih terlihat biasa saja. Tapi dibalik permukaan airnya yang mulai kehijauan, ternyata tersembunyi banyak hal yang bikin bergidik: tumpukan lumut, bakteri, dan jamur yang sudah hidup bertahun-tahun. Penjaga kolam mengaku, air sulit diganti karena keterbatasan pasokan air bersih di area itu, ditambah minimnya dana perawatan. Akibatnya, mereka hanya mengandalkan sistem penyaringan dan penambahan klorin untuk menjaga kejernihan air.
Namun, klorin bukanlah solusi ajaib. Ia hanya bisa menekan pertumbuhan mikroorganisme sampai batas tertentu, tapi tidak benar-benar menghilangkan semua kotoran yang menumpuk dari waktu ke waktu. Apalagi kalau airnya sudah bercampur keringat, debu, sisa sabun, dan bahkan urine dari pengguna kolam. Kombinasi itu cukup untuk membuat air menjadi “hidup”, tapi bukan dalam arti yang sehat.
Air yang Jernih Belum Tentu Bersih
Kasus kolam renang KONI Sario sebetulnya bisa menjadi pengingat bagi kita semua. Air yang terlihat jernih belum tentu benar-benar bersih. Banyak dari kita yang mungkin merasa aman hanya karena air di rumah tampak bening dan tidak berbau, padahal kualitas air bisa menurun tanpa disadari.
Setiap hari, air di rumah bisa terkontaminasi dari berbagai sumber, dimulai dari pipa yang sudah berkarat, debu yang masuk lewat ventilasi, atau tangki air yang jarang dibersihkan. Bahkan jika air berasal dari sumber yang baik, wadah penyimpanannya bisa menjadi tempat berkembang biak bakteri dan jamur bila tidak dirawat dengan baik.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa air yang tersimpan dalam tangki tua atau tidak higienis dapat mengandung bakteri seperti E. coli, jamur, hingga lumut mikroskopis yang tak terlihat mata. Akibatnya, air yang kita gunakan untuk mandi atau mencuci bisa menyebabkan gatal, iritasi kulit, hingga bau tak sedap.
Dan seperti kolam KONI Sario, air yang tak pernah diganti dalam waktu lama bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan.
Pelajaran dari Kasus KONI Sario
Kalau dipikir-pikir, permasalahan di KONI Sario bukan hanya soal dana atau fasilitas, tapi juga tentang kesadaran akan pentingnya menjaga kualitas air. Air adalah sumber kehidupan, tapi juga bisa menjadi sumber penyakit jika dibiarkan kotor terlalu lama.
Dalam konteks rumah tangga, prinsipnya sama. Kita mungkin tidak punya kolam renang, tapi kita punya tangki air, yaitu wadah yang setiap hari menampung air untuk semua keperluan, yaitu mandi, mencuci, hingga masak. Jika tangki jarang dibersihkan atau dibuat dari bahan yang mudah berjamur, air yang keluar dari keran pun bisa sama “tuanya” dengan air kolam KONI Sario, meski terlihat jernih.
Menjaga Air, Mulai dari Tempatnya
Banyak orang belum sadar betapa besar peran tangki air di rumah. Ia bukan sekadar tempat menampung air, tapi benteng pertama yang menentukan seberapa bersih air yang kita gunakan setiap hari. Wadah yang tidak tertutup rapat bisa kemasukan debu, serangga, bahkan kotoran hewan kecil. Sementara dinding tangki yang lembab bisa jadi sarang lumut atau jamur.
Kondisi ini bisa dicegah dengan memilih tangki air yang benar-benar dirancang untuk menjaga kualitas air dari dalam. Misalnya, tangki yang terbuat dari material food grade, punya lapisan anti lumut dan anti bakteri, serta dilengkapi garansi 50 tahun agar pengguna lebih tenang seperti Tangki Air dari MPOIN.
MPOIN menyiapkan tangki air yang dirancang dengan konsep “bersih dari dalam, kuat dari luar”. Dengan material berkualitas dan struktur yang kokoh, air tetap jernih meski disimpan lama. Jadi, pengguna tidak perlu khawatir air di rumah berubah warna, bau, atau menimbulkan gatal di kulit.
Air Bersih Adalah Tanggung Jawab Kita
Kasus pada Kolam renang KONI Sario mungkin terdengar ekstrem, tapi ia membawa pesan yang sederhana, yaitu jangan anggap remeh kebersihan air. Air yang kotor tak selalu tampak kotor. Kadang, justru yang terlihat tenang dan jernih itulah yang paling berbahaya.
Di rumah, di tempat kerja, atau di fasilitas umum, menjaga air tetap bersih berarti menjaga kesehatan kita sendiri. Dan semuanya bermula dari wadah penyimpanan yang aman, material yang higienis, dan kebiasaan merawatnya.
Karena pada akhirnya, air bersih bukan soal kemewahan, tapi soal kesadaran. Jangan tunggu sampai air di rumah kita seperti kolam yang tak pernah dikuras ya! Pastikan air tetap jernih, aman, dan terlindungi.