Harga boleh anjlok, tapi kepercayaan terhadap emas tetap kuat.
Beberapa hari terakhir, linimasa media sosial dipenuhi pembahasan soal harga emas yang tiba-tiba anjlok tajam. Mulai dari analis keuangan, investor pemula, sampai ibu rumah tangga di TikTok, semua ramai membicarakan fenomena ini. CNBC Indonesia bahkan menyebut penurunan kali ini sebagai yang terburuk dalam lima tahun terakhir. Tapi dibalik grafik merah dan angka-angka menukik, ada cerita menarik tentang bagaimana masyarakat kini memandang emas bukan hanya sebagai investasi, tapi juga bagian dari gaya hidup finansial yang modern dan penuh kesadaran.
Belum lama ini, harga emas dunia sempat mencetak rekor tertinggi di kisaran US$ 4.381 per troy ons, sebelum akhirnya turun sekitar 5,5% dalam sehari menjadi US$ 4.115 (data Bareksa, 22 Oktober 2025). Penurunan ini langsung berdampak di pasar domestik. Harga emas Antam yang sempat menyentuh Rp 2,48 juta per gram kini turun menjadi Rp 2,31 juta, sementara harga buyback berada di sekitar Rp 2,16 juta per gram. Meski begitu, banyak orang justru melihat momen ini sebagai peluang. Di media sosial, muncul narasi “emas lagi diskon,” dengan banyak investor ritel memilih membeli saat harga sedang turun.
Fenomena ini memperlihatkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap investasi. Jika dulu emas identik dengan simbol kemewahan atau simpanan tradisional, kini ia menjadi bagian dari gaya hidup finansial yang lebih sadar dan realistis. Di TikTok dan Instagram, konten edukatif tentang investasi emas digital, tips beli di aplikasi resmi, hingga strategi “nabung emas” tiap bulan makin banyak muncul. Generasi muda tidak hanya membeli karena ikut tren, tetapi juga karena ingin membangun kebiasaan finansial yang stabil. Namun, di sisi lain, muncul pula efek FOMO, yaitu yang membeli hanya karena takut ketinggalan, bukan karena paham betul tujuan investasinya.
Analis Bareksa menyebut bahwa koreksi harga ini sebenarnya masih dalam tahap “koreksi sehat” setelah lonjakan harga yang terlalu cepat beberapa waktu lalu. Artinya, tidak perlu panik berlebihan. Dalam dunia investasi, pergerakan naik-turun itu hal wajar. Yang penting, investor memahami konteksnya dan tidak bereaksi hanya karena tren sesaat. Banyak pengamat juga menekankan pentingnya diversifikasi aset, agar tidak terpaku pada satu instrumen saja.
Namun di luar hitungan ekonomi, emas tetap punya daya tarik emosional. Ia bukan sekadar logam berharga, melainkan simbol ketenangan dan rasa aman. Di tengah kondisi global yang tidak menentu, fluktuasi pasar saham, dan nilai mata uang yang sering berubah, emas memberi rasa “punya pegangan”. Mungkin itu sebabnya, meski harganya sedang turun, justru banyak orang yang membeli, karena bagi mereka, emas bukan semata soal keuntungan, tapi juga rasa stabilitas yang jarang ditemukan di aset lain.
Penurunan harga emas kali ini menjadi pengingat bahwa stabilitas bukan berarti tanpa perubahan. Nilai emas bisa naik dan turun, tapi kepercayaan terhadapnya tetap kuat. Masyarakat kini semakin sadar bahwa memiliki emas bukan hanya tentang investasi, tapi tentang cara membangun ketenangan finansial di tengah dunia yang serba cepat.