Saat ini, skincare sudah menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang. Dulu, perawatan kulit mungkin hanya dianggap penting oleh sebagian orang saja. Tapi sekarang, hampir semua kalangan mulai sadar bahwa menjaga kesehatan kulit bukan sekadar soal penampilan, melainkan soal kesehatan, kenyamanan dan kepercayaan diri. Tidak heran jika saat ini produk skincare semakin mudah ditemukan, baik di toko offline maupun di marketplace online.
Namun, di balik tren skincare yang terus meningkat, ada satu hal yang masih sering diabaikan, yaitu legalitas dan keamanan produk. Masih banyak orang membeli skincare hanya karena tergiur oleh klaim “Kulit Putih Seketika”, “Cepat Glowing”, atau hanya karena produk tersebut viral di media sosial. Padahal, seberapa pun populernya sebuah produk, skincare yang terbaik tetaplah yang sudah memiliki izin edar resmi. Dalam hal ini, produk sudah memiliki izin BPOM.
Skincare Terbaik Bukan yang Viral, Tapi yang Terdaftar BPOM
BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) adalah lembaga resmi yang bertugas mengawasi keamanan produk kosmetik, obat, dan makanan yang beredar di Indonesia. Ketika sebuah produk skincare memiliki nomor BPOM, artinya produk tersebut telah melewati proses pemeriksaan tertentu dan dinyatakan layak edar sesuai regulasi.
Dengan kata lain, BPOM bukan sekadar label formalitas. BPOM adalah filter yang membantu konsumen terhindar dari produk berbahaya. Jadi, meskipun sebuah produk terlihat meyakinkan, memiliki banyak review positif, atau dijual oleh seller terkenal, jika tidak terdaftar di BPOM, maka risikonya tetap tinggi.
Skincare yang aman seharusnya bukan yang memberikan hasil instan dalam hitungan hari, tetapi juga yang jelas asal-usulnya, jelas komposisinya, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Baca Juga: Liburan Bebas Repot: Ini Dia Negara Bebas Visa yang Bisa Kamu Kunjungi

Kenapa Skincare Harus Bersertifikasi BPOM?
Sertifikasi BPOM memiliki fungsi penting untuk melindungi konsumen. Beberapa di antaranya adalah:
- Memastikan produk memiliki komposisi yang sesuai standar keamanan.
- Menghindari penggunaan bahan berbahaya yang dilarang atau dibatasi.
- Memastikan produsen jelas dan dapat ditelusuri.
- Menjamin adanya informasi pemakaian, aturan, serta tanggal kedaluwarsa.
- Memberikan perlindungan hukum jika produk menimbulkan efek samping.
Tanpa BPOM, konsumen sebenarnya tidak memiliki kepastian apakah produk tersebut aman atau justru sedang menjadi “kelinci percobaan” dari bahan-bahan yang belum teruji.
Kandungan Berbahaya yang Sering Ada di Skincare Non BPOM
Salah satu alasan skincare non-BPOM sangat berisiko adalah karena sering mengandung bahan yang seharusnya tidak digunakan secara bebas. Beberapa bahan yang paling sering ditemukan dalam produk ilegal antara lain:
- Merkuri
Merkuri sering ditemukan pada produk pemutih instan. Efeknya memang cepat membuat kulit terlihat cerah, tetapi dalam jangka panjang bisa merusak lapisan kulit, menyebabkan iritasi, hingga berdampak pada kesehatan tubuh.
- Hidrokuinon dosis tinggi
Hidrokuinon sebenarnya bisa digunakan dalam kondisi tertentu, tetapi harus dalam batas aman dan di bawah pengawasan dokter. Pada produk non-BPOM, hidrokuinon sering digunakan sembarangan, sehingga berisiko membuat kulit menipis dan memicu flek yang semakin parah.
- Steroid (kortikosteroid)
Steroid (kortikosteroid) pada dasarnya adalah jenis hormon steroid sintetis yang bisa membantu mengatasi alergi kulit, psoriasis, dan kondisi kulit meradang lainnya. Tapi pada praktiknya kandungan ini sering disalahgunakan dalam produk pemutih wajah ilegal untuk membuat kulit terlihat mulus dengan cepat, namun penggunaan jangka panjang bisa menyebabkan ketergantungan. Saat pemakaian dihentikan, kulit bisa mengalami breakout parah dan kemerahan ekstrem.
- Pewangi dan pewarna berbahaya
Di beberapa produk ilegal, masih banyak juga yang menggunakan zat tambahan yang tidak aman, yang dapat memicu alergi, gatal, dan peradangan. Masalahnya, kandungan ini sering tidak dicantumkan secara jujur pada label. Itulah sebabnya skincare non-BPOM sangat sulit dipercaya.
Baca Juga: Siapa Bilang Hobi Harus Mahal?
Dampak Pemakaian Skincare Non-BPOM
Efek penggunaan skincare ilegal bisa muncul dalam waktu singkat maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, pengguna biasanya mengalami kulit perih, panas, kemerahan, gatal, breakout, atau iritasi berat.
Sedangkan dalam jangka panjang, risikonya lebih serius. Kulit bisa menipis, barrier rusak, flek permanen, jerawat kronis, bahkan sensitivitas ekstrem yang sulit dipulihkan. Bahkan, di banyak kasus, menunjukkan bahwa kulit yang awalnya hanya ingin dibuat lebih cerah justru harus menjalani perawatan mahal untuk memperbaiki kerusakan.
Cara Memilih Skincare yang Aman
Untuk terhindar dari produk skincare abal-abal, kamu bisa lakukan langkah sederhana sebagai berikut:
- Cek nomor BPOM di kemasan.
- Verifikasi nomor tersebut melalui situs resmi BPOM.
- Hindari produk dengan klaim berlebihan seperti “putihkan kulit dalam 3 hari” dsb.
- Waspadai harga produk yang terlalu murah dengan janji hasil instan.
- Pastikan ada informasi produsen yang jelas.
Aman Itu Harus Teruji
Pada akhirnya, memilih skincare bukan soal tren atau ikut-ikutan, tapi soal keamanan. Produk yang aman adalah produk yang sudah teruji dan memiliki standar yang jelas. Hal ini sebenarnya tidak hanya berlaku untuk skincare, tetapi juga untuk kebutuhan rumah tangga lainnya.
Contohnya, air yang digunakan sehari-hari untuk mandi dan mencuci wajah juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan kulit. Maka, penting untuk memastikan kualitas air tetap bersih dan aman dengan sistem penyimpanan yang terpercaya.
MPOIN hadir sebagai produk tangki air yang dirancang dengan bahan baku berkualitas tinggi dan sudah melalui uji laboratorium. Membuat air yang disimpan di semua produk toren, tandon, atau tangki air dari MPOIN bersih dan terjamin keamanannya. Sehingga lebih aman untuk kebutuhan rumah tangga. Sama seperti memilih skincare yang sudah BPOM, memilih tangki air pun sebaiknya yang sudah terbukti kualitasnya. Karena dalam urusan kesehatan, yang paling penting bukan cepat atau murah, tetapi aman dan teruji.
Baca Juga: Penyakit Akibat Pola Hidup: Dari Obesitas hingga Penyakit Lingkungan
