Bagi sebagian orang, kopi mungkin adalah minuman yang biasa saja. Rasanya yang pahit, warnanya yang hitam, mungkin menjadi alasan mereka menganggapnya biasa. Tapi bagi sebagian yang lainnya, kopi adalah sebuah rutinitas, bahkan sebagai budaya, simbol pertemuan, bahkan ritual yang sarat makna.
Seperti, cara meminum kopi di Italia berbeda jauh dengan di Turki, Ethiopia, atau Jepang. Bukan hanya soal rasa, tetapi juga ritme hidup, nilai sosial, hingga cara mereka memaknai waktu. Yuk lihat bagaimana tiap negara memaknai kopi dengan caranya masing-masing.
Italia dan Budaya Espresso yang Serba Cepat
Di Italia, kopi identik dengan espresso. Disajikan dalam cangkir kecil berisi sekitar 25–30 ml, espresso biasanya diminum sambil berdiri di bar. Tidak ada ritual panjang dalam menikmatinya, cukup satu atau dua tegukan, dan selesai.
Budaya ini mencerminkan ritme hidup yang cepat dan efisien. Bahkan ada aturan tidak tertulis di Italia, yaitu tidak meminum kopi setelah jam 11 siang karena dianggap terlalu berat untuk sistem pencernaan.
Baca Juga: 5 Bandara Ternyaman dengan Fasilitas Paling Lengkap

Turki dan Kopi Pekat yang Sarat Makna
Berbeda dengan pendekatan Italia yang praktis, di Turki kopi justru menjadi ritual sosial. Bubuk kopi digiling sangat halus, dimasak bersama air dan gula sesuai selera dalam wadah kecil bernama cezve. Dalam menikmatinya, kopi di Turki tidak disaring, sehingga ampasnya mengendap di dasar cangkir.
Tradisi unik menikmati kopi ala Turki ini pun diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2013. Selain itu, meminum kopi bagi masyarakat Turki bukan sekadar konsumsi, tetapi juga momen kebersamaan. Bahkan, ampas kopi kerap digunakan untuk membaca ramalan masa depan dalam sebuah tradisi yang dikenal sebagai tasseography.

Ethiopia dan Upacara Kopi yang Mengikat Kebersamaan
Ethiopia dikenal sebagai tempat asal Coffea arabica. Yang menarik, di Ethiopia kopi disajikan melalui upacara tradisional yang bisa berlangsung hingga dua jam. Biji kopi disangrai di depan tamu, ditumbuk, lalu diseduh dalam teko tanah liat bernama jebena.
Ada tiga tahap dalam penyajian kopi di Ethiopia, yaitu abol, tona, dan baraka. Tahap pertama disebut abol, yaitu seduhan pertama yang paling kuat dan paling kaya rasa. Ini dianggap sebagai bentuk penghormatan utama kepada tamu. Tahap kedua, tona, memiliki rasa yang sedikit lebih ringan karena menggunakan ampas dari seduhan pertama. Dan tahap terakhir adalah baraka, yang berarti “berkah”. Seduhan ini paling ringan dan melambangkan doa serta harapan baik bagi semua yang hadir. Setiap tahap memiliki makna spiritual, melambangkan penghormatan dan persahabatan.
Baca Juga: Wajib Tahu!! Ini Fakta Tentang Olimpiade 2026

Jepang dan Presisi dalam Setiap Tetes Seduhan
Di Jepang, pendekatan terhadap kopi sangat detail dan presisi. Ini bisa dilihat dari metode pour over seperti Hario V60. Teknik yang terlihat sederhana tetapi sangat teknis. Dalam praktiknya, air dituangkan secara spiral dengan ritme tertentu, dimulai dari tengah lalu melebar keluar, kemudian kembali ke pusat. Tujuannya bukan hanya membasahi bubuk kopi, tetapi juga mengontrol proses ekstraksi secara presisi.
Selain itu, Jepang juga terkenal dengan budaya kissaten. Yaitu kedai kopi tradisional Jepang berfokus pada ketenangan untuk membaca, merenung, atau mengobrol santai, serta sering menyajikan kopi seduh manual, teh, dan makanan ringan.

Dari Tradisi Kopi Dunia ke Kualitas Air di Rumah Anda
Menikmati kopi khas berbagai negara di rumah kini bukan hal sulit. Mesin espresso tersedia, cezve bisa dibeli, alat pour over pun sudah mudah ditemukan. Namun, sering kali kita lupa memeriksa satu hal paling dasar, yaitu kualitas air yang digunakan setiap hari. Karena lebih dari 90% isi kopi adalah air, kebersihan dan kestabilannya menjadi fondasi rasa.
Di sinilah pentingnya memastikan air tersimpan dalam sistem yang benar. Seperti MPOIN yang dirancang dengan perlindungan anti-UV untuk membantu menjaga kualitas air tetap stabil, serta teknologi anti lumut agar tangki tidak mudah ditumbuhi alga akibat paparan cahaya. Materialnya juga dilengkapi dengan antimicrobial, sehingga air tetap higienis untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
MPOIN juga memiliki konstruksi lebih kuat dan tahan tekanan, sehingga penyimpanan air menjadi lebih aman dalam jangka panjang. Ditambah garansi hingga 50 tahun, menjadikan MPOIN bukan hanya untuk kebutuhan sesaat, tetapi untuk keberlanjutan penggunaan dalam waktu yang sangat panjang.
Baca Juga: 5 Langkah Menjaga Kualitas Air Rumah Saat Musim Hujan
