Air adalah salah satu hal yang sangat penting untuk keberlangsungan hidup manusia. Banyak aktivitas yang menjadikan air sebagai pemeran utama, mulai dari mandi, mencuci, memasak, hingga membersihkan peralatan dapur.
Namun, masih banyak dari kita yang tidak mengetahui jika setidaknya ada dua jenis air yang sering kita temui, yaitu hard water dan soft water. Selain itu, masih banyak juga yang belum benar-benar tahu mengenai jenis air yang mereka gunakan.
Padahal, perbedaan ini bisa memengaruhi kenyamanan mandi, umur peralatan rumah tangga, hingga tagihan listrik.
Baca Juga: Cara Ampuh Melindungi Keluarga Dari Cacar Air
Apa Itu Hard dan Soft Water?
Secara ilmiah, tingkat kekerasan air ditentukan oleh kandungan mineral kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) yang terlarut di dalamnya. Semakin tinggi kandungan mineral ini, semakin tinggi potensi pembentukan kerak.
Menurut klasifikasi yang umum digunakan oleh United States Geological Survey (USGS), tingkat kekerasan air dibagi berdasarkan konsentrasi mineral yang dinyatakan dalam miligram per liter (mg/L) sebagai kalsium karbonat (CaCO₃):
- 0–60 mg/L CaCO₃ → Soft (Air Lunak)
Air dalam kategori ini memiliki kandungan mineral rendah. Penggunaan air ini hampir tidak meninggalkan kerak pada keran atau shower dan relatif aman untuk sistem pipa rumah tangga. Air di level ini biasanya ditemukan pada air permukaan atau air yang sudah melalui proses pelunakan (softening).
- 61–120 mg/L → Moderately Hard (Cukup Sadah)
Pada level ini, efeknya mulai terasa. Air mulai memunculkan bercak tipis pada peralatan dapur, tetapi belum terlalu berdampak signifikan pada sistem perpipaan.
- 121–180 mg/L → Hard (Sadah)
Di level ini, kerak putih mulai mudah terlihat pada kepala shower, pemanas air, dan bagian dalam pipa. Dalam jangka panjang, endapan mineral dapat menurunkan efisiensi elemen pemanas dan membuat konsumsi energi meningkat.
- >180 mg/L → Very Hard (Sangat Sadah)
Kategori ini berisiko tinggi menyebabkan penumpukan kerak yang cepat. Pipa bisa menyempit akibat endapan, tekanan air menurun, dan peralatan seperti water heater atau mesin cuci lebih cepat mengalami gangguan.
Perlu dipahami, menurut World Health Organization (WHO), air keras tidak dikategorikan sebagai risiko kesehatan utama. Bahkan, kandungan kalsium dan magnesium dapat berkontribusi pada asupan mineral harian. Namun, dampaknya lebih terasa pada sistem sanitasi dan peralatan rumah tangga.

Ciri-Ciri Air Keras yang Bisa Dikenali
Sebelum melakukan uji laboratorium, ada beberapa tanda sederhana yang bisa diamati:
- Sabun sulit berbusa
- Muncul kerak putih di keran atau shower
- Rambut terasa lebih kaku setelah keramas
- Ada bercak putih pada gelas setelah dicuci
Jika beberapa tanda ini muncul bersamaan, besar kemungkinan air yang digunakan tergolong hard water.
Cara Praktis Mengecek Tingkat Kekerasan Air
Ada beberapa metode yang bisa dilakukan untuk mengecek apakah air di rumah termasuk air sadat atau lunak:
- Tes Sabun Sederhana
Masukkan air ke dalam botol bening, kemudian tambahkan sabun cair, lalu kocok. Jika cepat berbusa dan air tetap jernih, kemungkinan termasuk soft water. Jika berbusa sedikit dan air tampak keruh, maka ada indikasi jika air tersebut adalah air sadah.
- Menggunakan TDS Meter
TDS (Total Dissolved Solids) atau alat pengukur total zat terlarut. Namun perlu dicatat, TDS tinggi tidak selalu berarti hardness tinggi, karena TDS juga mencakup zat lain seperti natrium dan klorida. Untuk hasil spesifik, uji hardness tetap diperlukan.
- Uji Laboratorium
Pengujian di laboratorium lingkungan memberikan hasil paling akurat untuk mengetahui kandungan Ca dan Mg secara detail.
Baca Juga: Ayam Kampung atau Broiler? Mana yang Lebih Sehat
Dampaknya Jika Dibiarkan
Masalah utama hard water sebenarnya bukan pada kesehatan, tetapi pada sistem rumah. Beberapa dampak yang bisa terjadi antara lain:
- Penumpukan kerak mempersempit aliran pipa
- Elemen pemanas tertutup kerak sehingga boros listrik
- Mesin cuci dan shower lebih cepat aus
- Konsumsi sabun dan deterjen meningkat
Sistem Penyimpanan Air Juga Berperan
Sering kali orang fokus pada filter atau softener, tetapi lupa bahwa sistem penyimpanan air juga menentukan kualitas akhir sebelum air digunakan.
Air yang sudah diproses tetap bisa berubah kualitasnya jika disimpan dalam wadah yang tidak terlindungi dengan baik. Mulai dari paparan sinar matahari yang bisa memicu pertumbuhan lumut, hingga kelembapan dan sisa endapan mineral yang dapat menjadi media berkembangnya jamur atau mikroorganisme.
Dalam jangka panjang, ini bukan hanya memengaruhi kejernihan air, tetapi juga kebersihan sistem distribusinya.
Karena itu, selain memastikan apakah air di rumah termasuk soft atau hard water, penting juga memastikan tangki penyimpanannya dirancang untuk menjaga kualitas tersebut tetap stabil.
Tandon atau tangki air MPOIN hadir dengan teknologi perlindungan menyeluruh. Dilengkapi dengan perlindungan anti lumut, anti-UV dan anti mikroba. Selain itu, struktur tangkinya juga dibuat hingga 10x lebih kuat, sehingga lebih tahan terhadap tekanan dan perubahan cuaca dalam jangka panjang. Ditambah dengan garansi hingga 50 tahun, tandon atau tangki air MPOIN bukan lagi sekadar tempat menyimpan air, melainkan fondasi sistem sanitasi rumah yang dirancang untuk jangka panjang.
Baca Juga: Waspada! Penyakit Akibat Air Kotor Masih Mengintai
