Serba-Serbi Persiapan Puasa: Sidang Isbat, Hilal, dan Perbedaan Awal Puasa di Indonesia - MPOIN

Ternyata Begini Cara Menentukan Awal Puasa di Indonesia

Setiap mendekati bulan Ramadan, masyarakat selalu ramai membahas pertanyaan, “Kapan awal puasa dimulai?” Tak hanya sebatas rasa penasaran, pertanyaan tersebut adalah kebutuhan.

Karena dengan mengetahui awal Ramadan, masyarakat bisa menentukan banyak hal mulai jadwal kerja, agenda sekolah anak, rencana mudik, hingga persiapan stok bahan makanan untuk sahur dan berbuka

Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa Ramadan bukan hanya momen ibadah, tetapi juga momen sosial yang sangat besar dampaknya bagi kehidupan rumah tangga.

Di Indonesia, penentuan awal Ramadan identik dengan diadakannya sidang isbat. Berikut informasi lengkapnya.

Apa Itu Sidang Isbat dan Metodenya?

Di Indonesia, penetapan awal Ramadan dilakukan melalui mekanisme resmi bernama Sidang Isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag).

Sidang Isbat bukan sekadar rapat biasa. Forum ini melibatkan banyak pihak seperti MUI, perwakilan ormas Islam (NU, Muhammadiyah, dan lainnya), BMKG, BRIN, pakar astronomi, hingga ahli ilmu falak. Tujuannya adalah menetapkan awal bulan Hijriah secara nasional, termasuk awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha.

Dalam Sidang Isbat, pemerintah menggunakan dua pendekatan utama, yaitu:

  • Hisab (Perhitungan Astronomi)

Hisab adalah metode penentuan awal bulan Qomariyah yang didasarkan pada perhitungan peredaran bulan mengelilingi Bumi. Metode ini dapat menetapkan awal bulan jauh dari sebelumnya, karena tidak tergantung pada terlihatnya hilal pada saat matahari terbenam.

  • Rukyat (Pengamatan Langsung Hilal)

Rukyat adalah metode observasi langsung kemunculan bulan sabit pertama untuk menandakan awal bulan baru. Metode ini biasanya dilakukan di lokasi-lokasi yang memiliki horizon terbuka, seperti pantai atau dataran tinggi.

Dalam hal ini pemerintah Indonesia menggabungkan kedua metode ini agar keputusan yang diambil tidak hanya berbasis teori perhitungan, tetapi juga didukung bukti lapangan.

Baca Juga: Sambut Ramadan dengan Hidup Sehat dan Produktif

Serba-Serbi Persiapan Puasa: Sidang Isbat, Hilal, dan Perbedaan Awal Puasa di Indonesia - MPOIN

Jadwal Sidang Isbat 2026

Berdasarkan informasi resmi, Sidang Isbat penetapan awal Ramadan 1447 H (Puasa 2026) dijadwalkan pada:

  • Tanggal: Selasa, 17 Februari 2026
  • Lokasi: Auditorium H.M. Rasjidi, Kementerian Agama RI, Jakarta Pusat
  • Waktu pelaksanaan: biasanya dimulai sekitar sore hari, sekitar pukul 16.00 WIB

Dalam pelaksanaannya, Sidang Isbat umumnya memiliki rangkaian agenda utama seperti:

  • Pemaparan hasil hisab (data astronomi posisi hilal)
  • Laporan rukyatul hilal dari berbagai daerah
  • Musyawarah tertutup bersama perwakilan ormas dan ahli falak
  • Konferensi pers untuk mengumumkan keputusan resmi pemerintah

Pada tahap pengamatan hilal, pemerintah juga melakukan rukyat di banyak titik. Beberapa sumber menyebutkan pengamatan dilakukan hingga 96 titik lokasi di seluruh Indonesia.

Prakiraan Awal Puasa

Menjelang Ramadan 2026, muncul berbagai prakiraan awal puasa dari beberapa pihak.

Dalam beberapa laporan, Muhammadiyah diperkirakan menetapkan awal puasa lebih dulu, yaitu pada 18 Februari 2026, sementara pemerintah kemungkinan menetapkan awal puasa pada 19 Februari 2026, menunggu hasil sidang isbat dan laporan rukyat.

Perbedaan satu hari ini mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya cukup besar dalam kehidupan masyarakat, misalnya:

  • Jadwal sahur dan tarawih yang berbeda antar keluarga
  • Perbedaan awal aktivitas Ramadan di lingkungan sosial
  • Perbedaan jadwal acara kantor atau kegiatan sekolah
  • Kebingungan masyarakat yang belum memahami proses penetapan

Namun, pada praktiknya, masyarakat Indonesia sudah cukup terbiasa dengan kondisi ini. Biasanya, setiap keluarga mengikuti keputusan organisasi atau rujukan yang mereka yakini.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Tumbler untuk Temani Aktivitas Kamu

Kenapa Bisa Berbeda?

Perbedaan awal puasa di Indonesia bukan disebabkan oleh konflik atau ketidaksepahaman dalam tujuan, tetapi lebih karena perbedaan metodologi.

Secara umum:

  • Pemerintah menggunakan kombinasi hisab dan rukyat dengan kriteria tertentu (umumnya mengikuti standar MABIMS atau Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
  • Muhammadiyah menggunakan metode hisab, sehingga keputusan dapat dibuat lebih cepat tanpa menunggu hasil rukyat lapangan.
  • NU biasanya lebih menekankan rukyat sebagai acuan utama, sehingga keputusan sangat bergantung pada hasil pengamatan.

Hilal sendiri sering berada pada kondisi kritis, yaitu secara perhitungan mungkin sudah ada, tetapi secara visual belum tentu terlihat karena faktor cuaca, polusi, atau posisi bulan terlalu rendah. Karena itulah, ketika posisi hilal berada di batas tipis, hasil keputusan bisa berbeda.

Tips Rumah Tangga Sambut Ramadan

Terlepas dari perbedaan tanggal, satu hal yang pasti adalah Ramadan selalu membawa perubahan besar dalam rutinitas rumah tangga. Aktivitas memasak meningkat, termasuk penggunaan air. Namun nyatanya, masih banyak rumah di Indonesia masih menghadapi kendala air seperti tekanan air kecil saat jam tertentu, air keruh setelah hujan, suplai PDAM tidak stabil, atau sumur yang berubah warna atau berbau

Karena itu, salah satu persiapan penting menyambut Ramadan adalah memastikan ketersediaan air bersih yang stabil, terutama untuk sahur dan berbuka.Salah satunya dengan menggunakan tandon atau tangki air dari MPOIN. Dirancang untuk mendukung penyimpanan air yang lebih higienis dan menggunakan material yang kuat, tandon atau tangki air dari MPOIN dapat membantu memastikan kebutuhan air rumah tetap lancar selama puasa, tanpa drama air mati atau air keruh saat momen penting.

Baca Juga: Rumah Baru, Air Keruh: Cek Air Sebelum Membeli Rumah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *