Keran di rumah tidak selalu digunakan setiap hari. Ada keran di kamar mandi tamu, halaman, area servis, garasi, atau wastafel kecil yang hanya dipakai sesekali. Saat keran dibuka setelah lama tidak digunakan, air yang keluar kadang terasa berbeda. Air bisa berbau kurang segar, tampak keruh sebentar, atau membawa endapan halus.
Kondisi tersebut bisa terjadi karena air terlalu lama diam di jalur pipa. Air yang tidak mengalir dalam waktu lama dikenal sebagai air stagnan. Dalam kondisi tertentu, air stagnan bisa mengalami perubahan kualitas karena kontak terlalu lama dengan pipa, suhu ruangan, endapan, atau kotoran yang tertahan di jalur air.
Dikutip dari U.S.Environmental Protection Agency atau EPA, bangunan dengan penggunaan air rendah atau tidak digunakan dalam waktu lama dapat mengalami air stagnan di dalam sistem perpipaan. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas air sebelum digunakan kembali.
Air Pertama dari Keran Perlu Diperhatikan

Saat keran lama tidak dipakai, air pertama yang keluar biasanya merupakan air yang sudah cukup lama berada di dalam pipa. Karena itu, air bisa terlihat agak keruh, berbau kurang segar, atau terasa berbeda saat pertama kali dibuka. Biasanya kondisi tersebut akan membaik setelah keran dibiarkan mengalir beberapa saat.
Hal ini bukan berarti semua air dari keran yang jarang dipakai pasti berbahaya. Namun, air pertama yang keluar tetap perlu diperhatikan, terutama jika keran tidak digunakan berhari-hari atau berminggu-minggu. Jika air terlihat sangat keruh, berbau tajam, atau berubah warna dalam waktu cukup lama, jalur pipa, sumber air, dan tempat penyimpanan air sebaiknya ikut dicek.
Membuka keran beberapa saat sebelum digunakan dapat membantu mengganti air lama di pipa dengan aliran air yang lebih baru. Kebiasaan sederhana ini cukup penting untuk keran yang jarang dipakai, terutama di area rumah yang lembap atau jarang dibersihkan.
Air Stagnan Bisa Memengaruhi Jalur Pipa
Air yang terlalu lama diam di dalam pipa dapat membuat endapan halus lebih mudah terkumpul. Pada beberapa sistem air, air stagnan juga dapat memengaruhi sisa disinfektan seperti klorin, sehingga perlindungan kualitas air bisa berkurang seiring waktu.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), air yang stagnan dalam sistem perpipaan dapat meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri yang berkaitan dengan biofilm, termasuk Legionella. Meski konteksnya lebih sering dibahas pada bangunan besar, prinsip dasarnya tetap relevan untuk rumah, yaitu air sebaiknya tidak terlalu lama diam di jalur pipa.
Karena itu, keran yang jarang digunakan tetap perlu dibuka sesekali. Dengan begitu, aliran air tetap berjalan dan kondisi air lebih mudah dipantau. Jika ada perubahan warna, bau, atau endapan yang muncul terus-menerus, pemilik rumah bisa lebih cepat menyadarinya.
Ujung Keran dan Saringan Juga Bisa Menyimpan Endapan
Selain jalur pipa, bagian ujung keran juga sering luput dari perhatian. Beberapa keran memiliki saringan kecil yang berfungsi menahan pasir halus, serpihan kerak, atau kotoran kecil dari aliran air. Jika keran jarang digunakan, bagian tersebut bisa menjadi tempat menumpuknya endapan.
Area sekitar keran juga perlu dijaga tetap bersih dan kering. Keran yang berada di kamar mandi, tempat cuci, atau area lembap lebih mudah terasa bau jika jarang dibersihkan. Jadi, saat air dari keran lama tidak dipakai terasa kurang segar, jangan hanya melihat airnya saja. Perhatikan juga ujung keran, saringan, pipa, dan kondisi area sekitarnya.
Membersihkan saringan keran secara berkala dapat membantu aliran air tetap lancar. Selain itu, membuka keran beberapa saat setelah lama tidak digunakan bisa membantu mengeluarkan air yang sebelumnya diam di jalur pipa.
Penyimpanan Air Ikut Berpengaruh pada Air Keran
Air yang mengalir ke keran biasanya melewati tempat penyimpanan lebih dulu, terutama pada rumah yang menggunakan tangki air. Jika air disimpan di tempat yang kurang terlindungi, kualitas air bisa lebih mudah terpengaruh panas, cahaya, debu, lumut, jamur, atau kotoran dari luar.
Karena itu, menjaga air tetap nyaman digunakan bukan hanya soal membuka keran atau membersihkan pipa. Tempat penyimpanan air juga perlu diperhatikan agar air yang masuk ke jalur pipa lebih higienis sejak awal. Air yang tersimpan dengan baik membantu kebutuhan mandi, mencuci, membersihkan rumah, dan aktivitas harian lainnya terasa lebih tenang.
Air yang terlihat jernih belum tentu selalu nyaman digunakan jika tempat penyimpanannya kurang higienis. Penyimpanan yang lebih terlindungi dapat membantu air tetap lebih layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari sebelum mengalir ke keran rumah.
Baca juga: Kenapa Tangki Air Tanam Perlu 8 Kaki Penyangga untuk Menahan Tekanan Tanah?
Air Lebih Terjaga dari Penyimpanan yang Tepat
Keran lama tidak dipakai bisa berdampak pada air karena air terlalu lama diam di jalur pipa, membawa endapan, atau keluar dari titik keran yang jarang dibersihkan. Untuk mengurangi risiko tersebut, keran yang jarang digunakan sebaiknya dibuka sesekali, air pertama dibiarkan mengalir beberapa saat, dan bagian ujung keran tetap dijaga kebersihannya.
Di sinilah tangki air MPOIN punya peran penting dalam menjaga kualitas air di rumah. Dengan materialfood grade, BPA free, perlindungan anti-UV, anti lumut, anti jamur, teknologi antimicrobial, dan dilengkapi garansi 50 tahun, MPOIN membantu menjaga air tetap lebih higienis untuk kebutuhan harian.
Dengan tangki air MPOIN, air tersimpan di tempat yang dirancang untuk membantu melindungi kualitasnya sebelum mengalir ke keran. Jadi, kebutuhan air harian keluarga terasa lebih nyaman karena air berasal dari penyimpanan yang lebih higienis dan terlindungi.
Baca juga: Gelombang Panas di Eropa Bisa Bikin Kebutuhan Air Ikut Terdampak?
