Pernah merasa badan masih licin setelah mandi, padahal sudah dibilas berkali-kali? Rasanya seperti ada lapisan tipis yang tertinggal di kulit. Banyak orang langsung mengira penyebabnya sabun, sampo, atau jenis air yang digunakan. Padahal, rasa licin setelah mandi juga bisa menjadi tanda bahwa kualitas air di rumah perlu diperhatikan.
Air mandi yang terasa berbeda sebaiknya tidak dianggap sepele, apalagi jika disertai tanda lain seperti kamar mandi cepat licin, ember terasa berlendir, gayung mudah berlapis, atau air mulai memiliki bau kurang segar. Kondisi tersebut bisa berkaitan dengan air yang tersimpan terlalu lama atau tangki air yang kurang terlindungi dari lumut dan jamur.
Air di Tangki Bisa Memengaruhi Kenyamanan Mandi

Tangki air berperan besar dalam sistem air rumah. Air yang masuk dari sumber utama biasanya ditampung lebih dulu sebelum mengalir ke kamar mandi, dapur, dan area lain di rumah. Karena itu, kualitas tangki sangat berpengaruh pada kualitas air yang digunakan setiap hari.
Jika bagian dalam tangki mulai berlumut, air yang mengalir ke kamar mandi bisa ikut membawa partikel halus, sisa organisme, atau lapisan lendir yang tidak selalu terlihat jelas. Air mungkin masih tampak bening dari keran, tetapi saat menyentuh kulit, rasanya bisa berbeda. Inilah yang membuat badan terasa licin atau kurang segar setelah mandi.
Dikutip dari laman World Health Organization (WHO), pentingnya pengolahan dan penyimpanan air yang aman di rumah untuk membantu menjaga kualitas air serta mengurangi risiko penyakit berbasis air. Artinya, air yang sudah bersih dari sumbernya tetap perlu disimpan dengan cara yang benar agar kualitasnya tidak menurun sebelum digunakan.
Kenapa Air Bisa Terasa Licin?
Air yang terasa licin tidak selalu berasal dari satu penyebab. Dalam beberapa kondisi, rasa licin bisa dipengaruhi oleh kandungan mineral, sisa sabun yang belum terbilas sempurna, atau permukaan kulit yang masih terkena residu produk mandi. Namun, jika rasa licin muncul bersamaan dengan tanda kamar mandi berlendir, tangki kotor, atau air berbau, kualitas penyimpanan air perlu dicurigai.
Lumut dan biofilm dapat tumbuh di lingkungan yang lembap, hangat, dan terkena cahaya. Tangki air yang kurang terlindungi dari sinar matahari lebih berisiko menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan lumut. Jika kondisi ini dibiarkan, air yang tersimpan di dalam tangki bisa menjadi kurang nyaman digunakan untuk mandi, mencuci, atau membersihkan tubuh.
Sesuai dengan Permenkes No. 2 Tahun 2023, bahwa air untuk keperluan higiene dan sanitasi digunakan untuk kebutuhan higiene perorangan dan rumah tangga. Kualitas air tersebut dilihat dari aspek fisik, mikrobiologi, dan kimia. Jadi, air yang dipakai untuk mandi tetap perlu diperhatikan kualitasnya, bukan hanya air yang digunakan untuk minum atau memasak.
Air Jernih Belum Tentu Selalu Aman Disimpan
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menilai kualitas air hanya dari tampilannya. Selama air terlihat jernih, banyak orang merasa semuanya baik-baik saja. Padahal, perubahan kualitas air bisa terjadi perlahan dan tidak selalu langsung terlihat.
Air yang disimpan di tangki kurang terlindungi bisa mengalami perubahan karena paparan panas, cahaya, debu, atau kotoran dari luar. Dalam jangka waktu tertentu, bagian dalam tangki dapat menjadi tempat menempelnya endapan, lumut, atau jamur. Akibatnya, air yang keluar dari keran mungkin terlihat normal, tetapi terasa kurang nyaman ketika digunakan.
Central of Disease Control (CDC) menjelaskan bahwa wadah penyimpanan air yang aman berfungsi membantu mencegah kontaminasi air saat proses penyimpanan. Prinsip ini juga berlaku untuk tangki air rumah karena tangki menjadi tempat utama air menunggu sebelum dipakai untuk kebutuhan harian.
Baca juga: Berapa Lama Ideal Air Tersimpan di Tangki? Ini Penjelasannya
Tanda Tangki Air Perlu Lebih Diperhatikan
Kondisi tangki air sebaiknya dicek ketika air mulai terasa berbeda. Badan licin setelah mandi bisa menjadi salah satu sinyal awal, terutama jika kamar mandi juga lebih cepat licin dari biasanya. Selain itu, bau kurang sedap, air terasa tidak segar, atau muncul lapisan licin pada ember dan gayung juga bisa menjadi tanda bahwa sistem penyimpanan air perlu diperhatikan.
Pemeriksaan tangki bisa dimulai dari hal sederhana, seperti memastikan penutup tangki rapat, melihat apakah tangki terkena matahari langsung, dan memperhatikan apakah ada endapan berlebih di bagian dasar. Tangki yang jarang diperiksa dapat membuat masalah kecil berkembang menjadi gangguan yang lebih terasa dalam aktivitas sehari-hari.
Tangki Air yang Baik Membantu Menjaga Air Tetap Higienis
Menjaga kualitas air bukan hanya soal memilih sumber air yang baik. Setelah masuk ke tangki, air tetap perlu disimpan di tempat yang aman, tertutup, dan terlindungi. Tangki air yang baik membantu mengurangi risiko paparan sinar matahari, pertumbuhan lumut, jamur, serta kontaminasi dari luar.
Di sinilah tangki air MPOIN punya peran penting dalam menjaga kualitas air di rumah. Dengan material food grade, BPA free, perlindungan anti-UV, anti lumut, anti jamur, serta teknologi antimicrobial, MPOIN membantu menjaga air tetap lebih higienis untuk kebutuhan harian.
Badan licin setelah mandi bisa menjadi pengingat bahwa kualitas air di rumah perlu dijaga dari tempat penyimpanannya. Dengan tangki air MPOIN, air mandi dan kebutuhan harian keluarga menjadi lebih nyaman karena air tersimpan di tangki yang dirancang untuk membantu menjaga kualitasnya tetap higienis.
Baca juga: Tangki Air Bawah Tanah Horizontal untuk Sistem Penyimpanan Air yang Lebih Aman
